Mengenal Distemper Pada Kucing dan Gejalanya

Distemper Pada Kucing

Jika saat ini masyarakat dunia begitu resah dengan penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2, kucing sebetulnya juga memiliki penyakit mematikan serupa. Kendati bukan dari strain coronavirus, penyakit ini jelas harus diwaspadai. Apakah itu? Distemper pada kucing, yang bisa membuat nyawa si kaki empat ini melayang.

Distemper Pada Kucing
Distemper Pada Kucing

Bahkan pada akhir Januari 2020, distemper pernah bikin geger Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, saat ada puluhan kucing mati mendadak.

Dilansir Kompas.com, Sutiyarmo selaku Pengawas Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, memastikan kalau puluhan kucing mati karena terinfeksi distemper.

Sebagai penyakit yang begitu ganas, distemper memang sudah membuat banyak catlovers kehilangan kucing kesayangannya.

Tentu dibutuhkan perjuangan yang besar untuk bisa merawat kucing yang positif terkena distemper. Supaya tak merasakan kehilangan, ada baiknya kamu memahami lebih jauh mengenai distemper pada kucing.

Pengertian Distemper Pada Kucing

pengertian distemper pada kucing

Distemper pada kucing sebetulnya adalah nama lain dari penyakit Feline Panleukopenia. Istilah panleukopenia sendiri diambil dari kondisi penderita yang mengalami kadar leukosit alias sel darah putih yang sangat rendah.

Panleukopenia ini menyerang kucing tidak peduli kucing liar atau kucing peliharaan di dalam rumah dan sangat mematikan.

Penyebarannya sangatlah cepat dan jika penanganan terlambat, nyawa kucing jelas jadi taruhan. Panleukopenia sangat mewabah di saat musim hujan seperti kebanyakan infeksi virus lainnya yang memang lebih menyukai kondisi lingkungan lembab.

Dibutuhkan penanganan yang tepat dan benar-benar sabar dalam mengatasi kucing yang terkena distemper.

Penyebab Penyakit Distemper

penyebab distemper pada kucing

Lantaran merupakan infeksi virus, penyakit distemper alias panleukopenia ini disebabkan oleh virus panleukopenia (FPV).

FPV ini merupakan parvovirus kucing yang masih berkerabat dengan parvovirus anjing tipe 2 dan enteritis cerpelai.

Seperti namanya, FPV memang menyerang langsung leukosit yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh.

Kucing dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti kucing liar, jarang memperoleh asupan gizi terbaik, hidup di tempat kotor hingga kitten yang sudah tidak minum ASI induknya, berpeluang besar terserang distemper.

Namun kucing sehat juga bisa terkena panleukopenia, jika menyentuh cairan tubuh atau kotoran kucing yang positif distemper.

Karena itulah kucing yang terkena distemper, disarankan untuk dijauhkan dari kucing lain yang masih sehat. Bahkan wadah pakan dan minum hingga kandang, tidak boleh digunakan bersama dan wajib dibersihkan dengan disinfektan.

Apakah panleukopenia bisa menular ke manusia (zoonosis)? Tenang saja, penyakit ini tidak demikian.

Hanya saja manusia yang memelihara sekaligus merawat kucing distemper berpeluang sebagai perantara virus. Karena FPV bisa menempel di tangan, pakaian dan tubuh manusia cukup lama setelah terpapar.

Bahkan menurut dokter Anton SAP dan Ica Antika dari PdhB (Praktek Dokter Hewan Bersama), FPV bisa bertahan hingga 12 bulan lamanya.

Gejala-Gejala Distemper yang Wajib Diwaspadai

gejala distemper pada kucing

Sebagai penyakit yang sangat mematikan, distemper pada kucing memang diharuskan memperoleh pengobatan segera. Penyebaran penyakit ini pada tubuh kucing sangatlah cepat bahkan hitungan jam.

Kucing bisa saja pada malam hari masih bermain dan makan, tapi keesokan paginya sudah meninggal. Berikut ini adalah gejala distemper atau panleukopenia pada kucing :

  1. Mengalami diare dengan bentuk kotoran cair dan berwarna kuning, hingga berdarah.
  2. Diare yang terus-menerus membuat kucing bakal dehidrasi karena kehilangan banyak cairan. Di tahap awal, mereka akan sering minum dan enggan makan. Namun dalam kondisi parah, kucing akan lemas dan kulitnya tidak elastis karena jarang minum.
  3. Kucing begitu lesu dan kehilangan nafsu makan. Nafsu makan yang anjlok akhirnya membuat asam lambung naik dan malnutrisi. Saat asam lambung terlanjur tidak terkontrol, kucing akan menolak semua makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya, sekalipun disuapin.
  4. Muntah berwarna kuning.
  5. Tubuh kucing demam, sehingga lebih suka menyendiri di tempat yang dingin, gelap sampai lantai kamar mandi.
  6. Ketika sel darah putih menurun sangat cepat dan kekebalan tubuh melemah, FPV juga bisa menyerang sistem saraf yang membuat kucing tidak bisa lagi menopang tubuhnya.
  7. Dalam kondisi yang benar-benar parah, bibir kucing akan berwarna lebih gelap, penurunan berat badan drastis dan akhirnya meninggal dunia.

Lantaran FPV ini menginfeksi dan membunuh sel-sel yang tumbuh serta membelah diri dengan cepat seperti di sumsum tulang hingga usus, tingkat kematian distemper pada kucing ini sangatlah tinggi.

Meskipun bisa menginfeksi kucing dari segala umur, menurut Merk Animal Health, Panleukopenia paling rentan dialami kitten yang belum divaksin.

Gejala panleukopenia dengan tingkat kematian tertinggi ada pada kitten yang berusia 3-5 bulan.

Kenapa kitten? Karena kitten dengan usia di atas tiga bulan cenderung sudah tidak memperoleh ASI lagi. Di mana bayi kucing yang baru lahir dan minum ASI berkualitas secara rutin dari induk, akan menerima antibodi maternal lewat kolostrum ASI.

Jika mengetahui kucing terkena distemper, maka segera bawa ke dokter hewan dan lakukan perawatan yang intens terhadap kucing.

Untuk panduan merawat kucing yang terkena distember bisa mengikuti panduan pada cara mengobati kucing distemper.

Jadi dapat disimpulkan bahwa distemper pada kucing disebabkan oleh virus Panleukopenia (FPV) yang bisa menyebabkan kematian mendadak pada kucing.

Kucing yang terkena distemper dapat disembuhkan dengan diberikan vaksin distemper kucing.

About Nesya Damayanti

Dari kecil memang suka kucing. Sekarang nulis blog ini sebagai kegiatan rutin setelah lulus dari kuliah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *